Minggu, 03 Oktober 2010

Bahaya Rokok Bagi Kehamilan

Rokok mungkin hal yang sepele bagi kebanyakan orang, namun sesungguhnya rokok memiliki zat yang berbahaya khususnya bagi wanita atau ibu yang sedang hamil. Bahaya rokok bagi kehamilan bisa bermacam macam. Bisa mengakibatkan asupan oksigen yang berkurang bagi bayi hingga terjadinya kelainan janin yang menakutkan. Akibat yang ditimbulkan dari asap rokok yang menyebabkan saluran oksigen yang menurun akan mengakibatkan bayi yang lahir dengan berat yang tidak normal. Hal ini bukan saja berlaku bagi wanita atau ibu yang merokok saja namun bagi para wanita perokok pasif. Sedemikian berbahayanya rokok bagi keslamatan ibu hamil dan bayi, maka sebisa mungkin kita menjauhkan asap rokok dari wanita hamil dan bayi.

Selain zat yang berbahaya yang ditimbulkan dari rokok, data yang ada menyebutkan bahwa kenaikan bayi yang lahir tidak normal dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Bahaya rokok bagi kehamilan sangat mempengaruhi kesehatan dewasa ini. Ancaman keguguran juga bisa dialami oleh wanita perokok dan perokok pasif. Dampak buruk asap rokok ini juga bisa mengakibatkan cacat janin, berat badan lahir rendah, bahkan gangguan jiwa. Untuk itu berikut adalah beberapa fakta yang harus anda ketahui mengenai bahaya rokok bagi kehamilan yang didapat dari beberapa sumber. Semoga ini semua bermanfaat bagi anda semua khususnya bagi para wanita hamil dan menyusui

- Dalam rokok, terkandung zat-zat kimia yang bisa membatasi pertumbuhan janin. Zat-zat kimia tersebut mereduksi jumlah sel yang dihasilkan di dalam tubuh dan otak janin. Nikotin yang terandung di dalam rokok membuat pembuluh-pembuluh darah menjadi mengkerut, sehingga mengurangi persediaan darah untuk plasenta yang berakibat terganggunya pertumbuhan janin.
- Dalam darah perokok kadar karbon moniksidanya lebih tinggi. Perempuan perokok yang hamil harus menghentikan kebiasaan merokoknya karena akan sangat merugikan kesehatan janin yang dikandung. Karbon monoksida akan terkonsentrasi dalam darah janin. Karbondioksida akan meracuni dan mengurangi jumlah oksigen yang dibawa ke dalam darah. Semakin banyak jumlah karbonmonoksida dalam darah janin, maka akan semakin rendah berat badan bayi saat lahir.
- Menurut penelitan, ibu perokok biasanya akan melahirkan bayi dengan berat badan yang lebih rendah 200 gram dari bayi yang dilahirkan dari ibu bukan perokok. Bayi dengan berat badan rendah lebih rentan terhadap berbagai infeksi, bisa terkena berbagai masalah kesehatan dan lebih kecil kemungkinannya untuk bertahan hidup.
- Masih menurut hasil penelitian, kemungkinan bayi lahir premature pada perempuan perokok hampir dua kali lipat.
- Orang yang merokok biasanya makan lebih sedikit, sehingga janin yang dikandung tidak akan mendapatkan gizi yang cukup untuk tumbuh dengan baik. Ibu perokok sering mengalami defisiensi (kekurangan) zinc (seng), mangan, vitamin A, B6, B12, dan C.
- Perokok lebih mungkin melahirkan anak dengan segala jenis cacat bawaan, khususnya pecah-pecah pada langit-langit mulut, bibir sumbing, kelainan system saraf pusat. Resiko-resiko kelainan tersebut akan semakin besar pada perokok berat.
- Resiko keguguran (aborsi spontan) dan bayi lahir mati juga semakin besar (dua kali lipat) pada perokok. Hal tersebut dikarenakan merokok menyebabkan resiko plasenta turun ke bawah di dalam rahim.
- Merokok juga bisa menyebabkan plasenta bayi menjadi lebih tipis, pembuluh-pembuluh darah menjadi rusak.
- Kematian neonatal lebih sering terjadi pada janin yang ibunya perokok. Ibu-ibu yang masih terus merokok setelah bulan keempat kehamilan memiliki resiko hampir sepertiga bayinya mati dalam seminggu setelah lahir.
- Asap rokok menyebabkan bayi sangat beresiko mengalami gangguan kesehatan selama tahun pertama kehidupannya. Bayi cenderung menderita bronchitis dan memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kematian mendadak atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
- Wanita yang sebelumnya merokok lalu mengurangi atau berhenti merokok sebelum minggu ke-20 kehamilan bisa saja melahirkan bayi dengan berat badan yang sama dengan bayi yang lahir dari wanita bukan perokok, namun masih tetap menyisakan resiko abnormalitas/kelainan bawaan karena pernah merokok pada fase-fase awal kehamilan atau sebelum pembuahan.
- Resiko kelainan pada bayi juga dimiliki oleh wanita-wanita perokok pasif yang terbiasa hidup dengan asap rokok. Anak-anak yang ayahnya perokok berat beresiko dua kali lipat terkena abnormalitas/kelainan.